Mbok Yem

Mbok Yem,kalau tidak salah,itulah namanya. Kira2 dia seumuran nenekku. Dia hidupnya sebatangkara. Suaminya sudah meninggal sewaktu dia jadi Romusha. Mbok Yem tidak punya anak. Hidupnya sebatangkara. Famili-familinya tidak ada yang memperhatikannya karena dia miskin.
Mbok Yem memang miskin. Rumahnya dari bambu yang dindingnya di sana-sini berlubang. Untuk hidup sehari-hari dia menjadi peminta-minta.

Tidak seperti para pengemis di lampu merah,yang menadahkan tangan, sambil memepertontonkan cacat atau lukanya untuk menarik belas kasihan orang, Mbok Yem tidak tidak pernah menadahkan tangannya sambil berkata ‘Kasihani saya pak. Saya belum makan,anak saya banyak’. Ya, dia tidak pernah begitu. Dia datang dari rumah ke rumah sambil bersilaturahmi.

Seringkali waktu datang ke rumah kami, Mbok Yem membawa kue buat kami, cucu-cucu nenek. Kadang, dia bercerita dongeng-dongeng kepada kami.
Kalau mbok yem pulang, nenek biasa memberi uang sekedarnya,bukan sedekah kepada pengemis,tapi kepada saudara.

Sekarang aku tidak lagi tahu,bagaimana kabarnya. Semoga mbok yem senantiasa sehat selalu.