Mbok Yem


Mbok Yem,kalau tidak salah,itulah namanya. Kira2 dia seumuran nenekku. Dia hidupnya sebatangkara. Suaminya sudah meninggal sewaktu dia jadi Romusha. Mbok Yem tidak punya anak. Hidupnya sebatangkara. Famili-familinya tidak ada yang memperhatikannya karena dia miskin.
Mbok Yem memang miskin. Rumahnya dari bambu yang dindingnya di sana-sini berlubang. Untuk hidup sehari-hari dia menjadi peminta-minta.

Tidak seperti para pengemis di lampu merah,yang menadahkan tangan, sambil memepertontonkan cacat atau lukanya untuk menarik belas kasihan orang, Mbok Yem tidak tidak pernah menadahkan tangannya sambil berkata ‘Kasihani saya pak. Saya belum makan,anak saya banyak’. Ya, dia tidak pernah begitu. Dia datang dari rumah ke rumah sambil bersilaturahmi.

Seringkali waktu datang ke rumah kami, Mbok Yem membawa kue buat kami, cucu-cucu nenek. Kadang, dia bercerita dongeng-dongeng kepada kami.
Kalau mbok yem pulang, nenek biasa memberi uang sekedarnya,bukan sedekah kepada pengemis,tapi kepada saudara.

Sekarang aku tidak lagi tahu,bagaimana kabarnya. Semoga mbok yem senantiasa sehat selalu.

3 Tanggapan

  1. Kasihan sebatang kara dan harus bertahan hidup dari belas kasihan orang lain, kita nantinya juga tua ya… mudah2an klo sy tua masih punya laptop jd masih bisa nge blog sambil momong cucu,kepedulian sosial thdp orang tua spt rumah jompo dll masih belum ya…, thanks mas artikelnya🙂

    @ Amiin. Semoga selalu diberi kesehatan sampai tua dan momong buyut(anaknya cucu).
    Mungkin nanti bukan jamannya ngeblog lagi, bu. Ndak tahu apa.
    Semoga nasib manula ke depan lebih baik

  2. Menurut konstitusi yang banyak ditolak perubahannya itu, Mbok Yem dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara. Akan tetapi, kenyataan membuktikan bahwa Mbok Yem dan anak-anak telantar dipelihara oleh orang-orang yang senasib dengan Mbok Yem.

    Mangka dari itu, lebih baik konstitusi diganti saja. Agar tidak memberatkan negara, pasal itu diubah menjadi Mbok Yem dan anak-anak telantar dipelihara oleh orang-orang di sekitarnya.

    @saya kira bukan diganti,tapi direvisi. Kok selama ini tidak ada yang menggugat ke mahkamah konstitusi, karena negara belum maksimal memenuhi kewajiban memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Layaknya para pendidik menuntut terpenuhinya anggaran pendidikan 20 %. Mungkin yang termasuk fakir miskin tidak ada yang dari kalangan pengacara.:-).
    Saya kira, yang disebut negara itu pemerintah dan masyarakat. Jadi ya,sama2 pemerintah dah masyarakat menyantuni mereka.

  3. Ya… kita nggak tahu masih berapa puluh atau ratus ribu Mbok Yem. Sama dengan kita juga tidak tahu, bagaimana yayasan atau pelindung rumah-rumah piatu itu hidup sebagai pelayanan dari rasa sosial masyarakat. Banyak yang betul-betul karena keikhlasan dan tanpa kontrol dan fungsi manajerial memadai. Pemerintah tidak mengaudit atau lembaga audit yang meningkatkan daya saing mereka dalam kancah pemberdayaan.
    Yang disampaikan Kang Kombor betul sekali. Kapan ya, Indonesia punya apa yang di negeri lain dikenal sebagai :”social security”.
    UUD 45 kan sudah mengamanatkan, tapi implementasinya jauh api dari panggang….
    @ Pemerintah sedang berusaha untuk mengurangi kemiskinan. Tapi ini harus didukung semua pihak termasuk orang miskin sendiri. Harus bahu membahu. Awasi dan kontrol serta teriaki kalo ada yang salah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: