Gelar


Pengalaman pertama kali saya melalukan pendataan adalah ketika saya menjadi petugas Sensus Penduduk 2000. Waktu itu saya bertugas di daerah Tebet, Jakarta Selatan, padahal tempat tinggal saya di daerah Bintaro (bukan yang perumahan).

Banyak pengalaman yang saya peroleh ketika menjadi petugas sensus. Salah satu di antaranya adalah saya dimarahi responden karena lupa menulis gelar. Ceritanya, waktu itu saya menanyakan nama responden dan dia bilang namanya adalah Haji Junaidi bin Abdulsomad. Tapi,waktu itu saya menuliskan di lembaran kuesioner, namanya adalah Junaidi bin Abd. Somad. Sengaja saya tidak menuliskan gelar haji, karena kotak isiannya tidak cukup.

Selesai saya mewawancarai pak Junaidi, saya tunjukkan kuesioner yang sudah terisi ke Pak Junaidi supaya dicek kalau ada yang salah tulis. Ketika melihat namanya tidak diembel-embeli gelar haji, spontan dia protes.

”Kok, nama saya tidak ada hajinya,dik?”,kata pak Junaidi sambil menyodorkan kuesioner kepada saya.
”Memangnya kenapa, pak?”, tanya saya.
”Saya sudah setengah mati mengeluarkan banyak biaya dan tenaga buat naik haji. Masa adik tidak menuliskan gelar saya”,jawabnya.

Dalam hati saya tersenyum, ”kalau naik haji dapat gelar haji, boleh dong di belakang nama saya ditambahi gelar, SSZP (syahadat, sholat, zakat, puasa).

Di rumah yang lain, orang yang serupa juga memprotes saya karena saya tidak menulis gelarnya. Katanya dia lulusan S2 di dua jurusan dengan gelar SH,MH,MBA. Dia sudah susah payah kuliah, kok gelarnya tidak dicantumkan.

————————-

Wikipedia mengartikan gelar sebagai awalan atau akhiran yang ditambahkan pada nama seseorang untuk menandakan penghormatan, jabatan resmi, kualifikasi akademik atau profesional.

Yang menjadi pertanyaan, apakah gelar tersebut harus selalu ditambahkan di nama seseorang? Gelar tidak selalu harus dicantumkan, tergantung situasi dan kondisi. Dalam lingkup pekerjaan, gelar diperlukan untuk menunjukkan kualifikasi seseorang. Kita tentu lebih yakin untuk berobat ke orang yang bergelar dokter daripada orang yang bergelar Sarjana Hukum.

Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari, tidaklah perlu membanggakan gelar. Jangan hanya karena tetangga kita lupa mencantumkan gelar dalam surat undangan, kita tidak mau menghadirinya. Orang yang membanggakan gelar, menunjukkan bahwa dia sombong dan gila hormat.

8 Tanggapan

  1. Alasan Wak Haji itu benar kok mas. Masak mahal2 naik haji ujung2nya nama tidak ada perubahan (penambahan gelar)…
    dasar orang2 gila gelar😀

    @. Rugi kalau hanya berharap gelar wak haji, padahal pahala haji yang mabrur lebih tinggi nilainya

  2. Masih mending wak haji, sekolahnya tak tinggi tinggi amat. Di Negara Jiran sinipun sama, ada juga yang protes…,padahal intelek.

  3. hmm..setahu saya gelar akademik hanya perlu dicantumkan pada kegiatan akademik saja,…kalo di undangan2, etc ngapain dipasang2…malu donk…terkesan riya’…apalagi kalo alasannya “sudah buang biaya banyak dll…” halah hare gene masih ngomong gelar..
    apalagi wak haji itu…gak usah riya’ deh…hehehhe

    salam kenal…
    saya juga punya gelar seabrek2…hahaha….

  4. Ha..ha…ha… gelar haji itu sangat perlu Mas, itu kan gelar tanda tawakal n tawadu. Apalagi kalau pakai SSZP dan H. Lebih lengkap lagi. Hanya kalau pakai SSZP, jangan dipakai di sawah, nanti disangka penyalur pupuk jenis baru.

    Malah ada juga perkumpulan para Haji, lalu ketika yang bukan haji masuk, dengan sangat menyesal pengurusnya “mengusir” karena belum haji. Yah namanya manusia…

    Oh ya Mas, Agor mustinya pakai gelar TJ (Tetangga Jendral), tapi malu soalnya jendralnya di perumahan sebelah kampung saya….

    @ Saya juga punya gelar ST (Si Tampan) he..he..

  5. sepakat
    gelar panjang
    tapi gak jelas
    trus g mumpuni di bidang gelarnya
    ahhhh

    @ yang asyik, gelar tikar di taman, duduk2 ,sambil minum teh dan makan kue. Mmm

  6. saya juga malu menuliskan nama gelar di depan dan dibelakang nama saya karena terlalu tinggi beban yang ada di pundak jika seandainya perilaku kita tidak sesuai dengan gelar…tetapi ada kemudahan yang saya dapatkan pada gelar ini yang tercantum di sim dan ktp
    – saat kena tilang, polisi nggak jadi nilang bahkan konsultasi kesehatan dan minta obat…
    – saat minjam buku di perpustakaan, saya diantar oleh petugasnya mencari referensi dalam bahasa inggris
    – saat ngurus samsat, petugas jadi tersenyum ramah yang sebelumnya cemberut
    – saat legalisasi ktp di catatan sipil, saya ditanya macam macam tentang asal usul sekolah saya…

    @kasihan yang tidak mempunyai gelar

  7. wah dari dulu kami digelari PAHLAWAN TANPA TANDA JASA ngak pernah ditulis tuh, bahkan kalo ada dari golongan kami wafat trus mau kami kuburkan di taman makam pahlawan, ngak boleh tuh sama pengurus makam pahlawannya. hehehehheh

    @bukannya PAHLAWAN TANPA BALAS JASA?😀

  8. Hehehe…

    He… He.. Jg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: