Pendaftaran STIS 2010 dibuka tanggal 1 April s.d. 21 Mei 2010

Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta kembali memanggil lulusan SLTA untuk menjadi mahasiswanya. Pendaftarannya dibuka tanggal 1 April s.d. 21 Mei 2010

Persyaratan Umum

  1. Sehat jasmani dan rohani dan tidak cacat fisik, tidak buta warna, dan bebas narkoba.
  2. Lulus (atau akan lulus) SMA jurusan IPA atau Madrasah Aliyah jurusan IPA.
  3. Nilai Matematika dan Bahasa Inggris masing-masing minimal 7 (bukan hasil pembulatan) pada kelas XII semester I.
  4. Umur tidak lebih dari 22 tahun pada tanggal 1 Oktober 2010.
  5. Belum menikah dan bersedia tidak menikah selama mengikuti pendidikan di STIS sampai dengan diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).
  6. Tidak sedang menjalankan ikatan dinas dengan instansi lain.
  7. Bersedia mematuhi peraturan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik.
  8. Bersedia menandatangani Surat Perjanjian Ikatan Dinas (SPID).
  9. Bersedia ditempatkan di unit kerja Badan Pusat Statistik (BPS) di seluruh Indonesia sampai ke tingkat kabupaten/kota.

Seleksi Ujian Masuk

Kegiatan Tanggal Keterangan
Pendaftaran 1 April – 21 Mei 2010 Prosedur lihat di sini
Ujian Tahap I 5 Juni 2010 Ujian tertulis Matematika, Bahasa Inggris, dan Minat & Bakat
Lokasi ujian di BPS Provinsi dan Kampus STIS
Pengumuman Hasil Ujian Tahap I 20 Juni 2010 Website STIS, Kampus STIS, dan BPS Provinsi
Ujian Tahap II 26 Juni 2010
26 – 28 Juni 2010
Ujian tertulis Psikotes
Wawancara
Lokasi ujian di BPS Provinsi dan Kampus STIS
Pengumuman Hasil Ujian Tahap II 25 Juli 2010 Website STIS, Kampus STIS, dan BPS Provinsi
Mengirimkan Hasil Tes Kesehatan 26 – 30 Juli 2010 Dikirimkan langsung atau kolektif ke Kampus STIS
Pengumuman Kelulusan 11 Agustus 2010 Website STIS, Kampus STIS, dan BPS Provinsi
Daftar Ulang 20 – 22 September 2010 Kampus STIS


Brosurnya bisa didownload di sini

Mau cari buku soal, lihat di sini

Sensus Penduduk 2010 Akan Pertimbangkan MDG’s

Harian Kompas pada Rabu, 9 Desember 2009 menampilkan berita tentang Sensus Penduduk 2010. Berikut ini isi beritanya.

Jakarta, Kompas – Badan Pusat Statistik kembali mengadakan sensus penduduk pada tahun 2010. Berbeda dari pelaksanaan sensus penduduk sebelumnya, Sensus 2010 akan mempertimbangkan berbagai indikator Tujuan Pembangunan Milenium serta data penduduk yang detail.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan seusai acara sosialisasi Sensus 2010 mengatakan, pendataan penduduk tersebut akan memberikan gambaran jumlah, dinamika, dan kemajemukan penduduk sehingga memungkinkan untuk menganalisis struktur penduduk.

Hasil pendataan nantinya ditujukan pula sebagai bahan evaluasi pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDG’s) hingga tingkat wilayah administrasi terkecil desa atau kelurahan. Target Tujuan Pembangunan Milenium, antara lain, penurunan tingkat kemiskinan dan kelaparan, pendidikan, angka kematian anak, angka kematian ibu, serta kesetaraan jender.

”Jika hanya menggunakan survei, sangat sulit melihat perkembangan pencapaian tujuan pembangunan milenium sesungguhnya karena survei sifatnya representasi dari populasi,” ujar Rusman, Senin (7/12).

Oleh karena itu, dibandingkan dengan sensus tahun 2000 yang menggunakan 17 variabel, pada sensus tahun 2010 variabel yang digunakan mencapai 43 varibel. Terdapat tambahan variabel soal lain yang lebih detail, mulai dari soal pendidikan seperti buta huruf hingga tingkat kematian ibu. Dengan kata lain, pendataan lebih komprehensif.

Data terkait pemberantasan kemiskinan yang juga menjadi salah satu Tujuan Pembangunan Milenium juga dapat dirumuskan dari hasil sensus tersebut. ”Dulu pengucuran Bantuan Langsung Tunai bagi masyarakat miskin menggunakan, antara lain, indikator kondisi rumah. Dengan sensus mendatang, beberapa variabel lain dapat digunakan untuk memotret kondisi kemiskinan, tingkat pendidikan, dan status pekerjaan,” lanjut Rusman.

Rusman mengatakan, sensus kali ini jauh lebih ambisius. Data yang tersedia nantinya sampai menampilkan nama dan alamat. ”Sebagai contoh, data kecacatan, misalnya, akan diketahui nama, jenis cacatnya, dan tempat tinggalnya, sehingga institusi yang akan intervensi lewat program dapat lebih mudah untuk tepat sasaran,” ujarnya.

Data-data mikro seperti itu bermanfaat untuk penyusunan kebijakan dan menjadi acuan banyak kalangan. Adapun biaya penyelenggaraan sensus adalah sekitar Rp 3,3 triliun dari APBN.

Pelaksanaan sensus

Dalam sosialisasi, Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Arizal Ahnaf mengungkapkan, dalam Sensus 2010, pendataan penduduk dilakukan pada 1-31 Mei 2010. Selain mendata penduduk di tempat mereka biasa tinggal (minimal enam bulan), pada 15 Mei 2010 secara de facto akan dilakukan pengumpulan data secara serentak untuk penduduk yang tidak menetap, seperti tunawisma, anak buah kapal berbendera Indonesia, penghuni perahu, masyarakat terpencil, dan pengungsi.

Dia mengatakan, sensus penduduk tahun 2010 setidaknya melibatkan responden penduduk sekitar 232 juta di 64 juta rukun tetangga dengan jumlah blok sensus 726.000 blok.

Kepala BPS Rusman Heriawan mengatakan, pihaknya akan merekrut petugas pencacah yang dinilai layak untuk menyensus penduduk. BPS akan mempekerjakan mereka memakai sistem kontrak dengan upah Rp 3 juta per bulan. BPS memperkirakan membutuhkan 700.000 petugas lapangan.

Mereka akan mendatangi semua rumah untuk mencatat nama penghuni dan alamat. Data sensus akan menjadi tolok ukur yang dipakai untuk kuantifikasi data sampai tahun 2020. ”Pendataan ini sangat monumental. Sekali tidak sempurna, data penduduk 10 tahun lagi tidak akan akurat,” ujar Rusman.

Pencacahan orang yang bekerja hanya akan menyangkut hal-hal yang umum. BPS hanya bertujuan mencatat apakah orang tersebut bekerja atau menganggur. Ada 20-an pertanyaan terkait bidang pekerjaan dan tidak akan menyentuh soal upah atau kelayakan hidup pekerja tersebut.

Data dasar sementara, seperti jumlah penduduk, sudah dapat diumumkan ke publik pada Agustus 2010. Data final dapat diperoleh paling lama satu tahun setelah sensus. Presiden RI direncanakan akan menyampaikan data jumlah penduduk Indonesia pada pidato kenegaraan 16 Agustus 2010. (INE/HAM)

Sumber: Kompas.com

Momentum Sensus Penduduk 2010

Artikel ini dikutip dari harian kompas,  tepatnya di

Momentum Sensus Penduduk 2010
Selasa, 21 April 2009 | 03:46 WIB
Kekisruhan daftar pemilih tetap Pemilu 2009 merupakan salah satu puncak gunung es masalah data kependudukan di Tanah Air.

Secara faktual, ketidaktersediaan data kependudukan yang lengkap dan mutakhir kerap menyulitkan perencanaan dan kegiatan di lapangan, baik pemilu maupun kegiatan pembangunan.

Data sensus dan survei

Selama ini, kegiatan untuk perencanaan pembangunan yang terkait data penduduk dilakukan dengan memanfaatkan data hasil sensus dan survei dari BPS dan lembaga penelitian. Namun, perencanaan pembangunan data itu memiliki kelemahan.

Pertama, terkait ketepatan waktu (timelines). Data untuk perencanaan kegiatan pada waktu tertentu tidak match dengan waktu ketika data itu dikumpulkan sehingga akurasi perencanaan berkurang. Semakin jauh perbedaan waktu antara data yang dikumpulkan dan digunakan, hal itu akan menyebabkan akurasi perencanaan berkurang. Ini disebabkan banyak perubahan terjadi antara waktu data dikumpulkan dan saat digunakan.

Menyadari potensi perubahan itu, untuk perencanaan digunakan penyesuaian (adjustment) berdasarkan asumsi, perkiraan, atau proyeksi. Hal ini umum dilakukan pada data hasil sensus penduduk, mengingat pelaksanaan sensus dilakukan setiap 10 tahun sekali. Maka, untuk memenuhi kebutuhan data penduduk di antara dua sensus penduduk, digunakan data hasil proyeksi penduduk.

Kedua, terkait data individual. Data hasil sensus dan survei tidak dilengkapi nama dan alamat individu sehingga menyulitkan untuk kegiatan teknis operasional di lapangan. Untuk menyiasati kelemahan itu, pemerintah melakukan pendaftaran, antara lain pelaksanaan program keperluan layanan sosial, pembagian BLT, serta bantuan pendidikan dan kesehatan.

Registrasi penduduk

Untuk masa datang, penyiapan data seperti itu harus dihindari sebab akan menyebabkan pemborosan biaya dan waktu. Bahkan, terkesan pemerintah kurang mengantisipasi aneka masalah yang dihadapi masyarakat. Maka, sudah saatnya memikirkan ketersediaan data yang didasarkan pada hasil registrasi penduduk.

Jika dilakukan dengan benar, data registrasi akan memenuhi standar ketepatan waktu. Sebab, data itu terus diperbarui sesuai dengan kejadian yang dialami penduduk, seperti lahir, mati, dan pindah. Data registrasi ini juga bisa memuat nama dan alamat yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan.

Hasil registrasi penduduk banyak digunakan negara maju sebagai data utama untuk perencanaan dan kegiatan program. Sementara hasil sensus dan survei digunakan sebagai data pendukung atau pembanding.

Untuk perencanaan program, misalnya, negara maju banyak menggunakan tabel kehidupan (life table). Tabel ini memuat data seperti penduduk menurut umur, angka umur harapan hidup, angka kematian, penduduk usia sekolah, dan pencari kerja baru. Adapun data pokok untuk mengonstruksi life table adalah kematian penduduk menurut umur yang datanya diperoleh dari registrasi penduduk. Sekadar informasi, konstruksi life table pertama kali dibuat di Inggris pada abad ke-13 berdasarkan data lahir dan meninggal yang tertulis di batu nisan kuburan.

Momentum SP2010

Sayang kita belum bisa membuat life table yang dapat menggambarkan penduduk Indonesia. Sebab, data kematian menurut umur hasil registrasi penduduk hingga kini belum ada.

Memang tidak mudah menyelenggarakan registrasi penduduk, terindikasi dari upaya lama pemerintah. Bahkan, untuk mengintensifkan penyelenggaraan registrasi penduduk, pemerintah membentuk institusi yang berwenang mengurusi soal itu, yaitu Direktorat Jenderal Administrasi Kependudukan, bernaung di bawah Departemen Dalam Negeri.

Salah satu penyebabnya, kurangnya perhatian aparat desa/ kelurahan dan RT/RW untuk mencatat tiap kejadian yang dialami penduduk (lahir, mati, dan pindah). Hal ini diperparah enggannya sebagian masyarakat melaporkan tiap kejadian yang dialami. Ini mungkin disebabkan sikap aparat yang kurang friendly. Dengan bertambahnya daerah pemekaran hingga ke level desa, ini kian menyulitkan penyelenggaraan registrasi penduduk.

Maka, terkait akan dilaksanakannya sensus penduduk tahun 2010 (SP2010), mungkin bisa dijadikan momentum untuk melakukan registrasi penduduk secara lengkap dan benar. Dirjen Minduk bisa memanfaatkan sensus itu sebagai data awal untuk melakukan registrasi penduduk dengan meng-up date data sesuai dengan kejadian lahir, mati, dan pindah yang dialami masyarakat.

Disadari rangkaian kegiatan itu merupakan pekerjaan besar. Agar tidak kehilangan momentum, SP2010 barangkali perlu persiapan sejak dini. Amat diharapkan hal itu bisa berhasil sehingga kekisruhan data kependudukan yang terjadi secara sistemik selama ini bisa teratasi.

Razali Ritonga Kepala BPS Provinsi Sulawesi Tengah

Sensus Penduduk akan dilaksanakan tahun 2010. Pastikan Anda dihitung!!!!

Pada tahun 2010 nanti, BPS kembali melaksanakan kegiatan sensus yaitu Sensus Penduduk 2010 (SP 2010). Sensus Penduduk merupakan kegiatan yang sangat penting bagi perencanaan pembangunan karena data yang didapat berupa data kependudukan yang dapat menggambarkan keadaan penduduk Indonesia hingga wilayah administrasi terkecil.

Sebenarnya kegiatan sensus ini pernah dilaksanakan pada masa sebelum Indonesia merdeka oleh Pemerintah Hindia Belanda yaitu pada tahun 1930. Selanjutnya setelah Indonesia merdeka telah dilakukan 5 kali sensus penduduk, yaitu pada tahun 1961, 1971, 1980, 1990, dan 2000. Sedangkan Sensus Penduduk 2010 adalah sensus ke-6 yang akan dilaksanakan pada tahun 2010. Acuan yang digunakan dalam pelaksanaan Sensus Penduduk adalah UU No. 16 Tahun 1997 tentang Statistik, Peraturan Pemerintah No 51 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Statistik, dan Rekomendasi PBB (United Nations).

Sensus Penduduk merupakan suatu rangkaian kegiatan pengambilan “stok” (stock taking) penduduk pada suatu titik waktu tertentu yang mencakup seluruh atau sebagian wilayah geografis suatu negara sejak tahapan persiapan sampai ke publisitas hasilnya. Titik waktu SP2010 adalah 31 Mei 2010 pukul 24.00. Tanggal ini disebut sebagai hari sensus (census date).

Pendataan Sensus Penduduk dilakukan secara door to door pada seluruh penduduk Warga Negara Indonesia (WNI) maupun Warga Negara Asing (WNA) yang tinggal dalam wilayah geografis Indonesia, baik yang bertempat tinggal tetap maupun yang tidak bertempat tinggal tetap. Anggota korps diplomatik negara lain beserta keluarganya, meskipun menetap di wilayah geografis Indonesia, tidak dicakup dalam pencacahan sensus penduduk. Cara pencacahan yang dipakai dalam Sensus Penduduk 2010 adalah kombinasi antara de jure dan de facto. Bagi mereka yang bertempat tinggal tetap dipakai cara de jure, yaitu dicacah di tempat mereka tinggal secara resmi, sedangkan penduduk yang tidak bertempat tinggal tetap dicacah dengan cara de facto, yaitu dicacah di tempat dimana mereka ditemukan oleh petugas lapangan sensus.

Manfaat Sensus Penduduk

Data SP2010 mempunyai kegunaan strategis secara internal sebagai: koreksi dan pengendali data kependudukan, basis proyeksi penduduk dekade 2010-an, basis untuk pemutakhiran dan pengembangan KCI survei rumah tangga decade 2010-an, dan basis pembangunan statistik wilayah kecil. Secara eksternal data SP2010 digunakan sebagai: basis pembangunan statistik administrasi kependudukan dan evaluasi pencapaian sasaran pembangunan global.

Instrumen dan Metode Pencacahan

Instrumen utama SP2010 berupa dua jenis kuesioner untuk mendaftar bangunan tempat tinggal dan mencacah penduduk secara lengkap. Kuesioner L untuk melakukan pendaftaran bangunan dan rumahtangga. Sedangkan Kuesioner C untuk mengumpulkan data individu penduduk dan rumahtangga. Pertimbangan yang digunakan sebagai dasar pembuatan kuesioner C adalah rekomendasi PBB (UN Recommendations), relevansi dengan MDGs, pengalaman sensus penduduk sebelumnya, pengalaman sensus yang dilaksanakan negara-negara lain, komponen perubahan penduduk, dan variabel yang sesuai hanya jika dikumpulkan melalui pencacahan lengkap (agama, bahasa, suku, kecacatan, arus migrasi, dsb).

Metode pencacahan Sensus Penduduk 1971, 1980, dan 1990 mencakup pencacahan lengkap dan pencacahan sampel. Sedangkan Sensus Penduduk 2000 hanya dilakukan secara lengkap dengan mengumpulkan 15 variabel demografi, sosial dan kegiatan ekonomi penduduk. Pada Sensus Penduduk 2010 pencacahan dilakukan secara lengkap dengan mengumpulkan variabel yang lebih banyak dibandingkan dengan SP2000 yaitu sebanyak 43 variabel.

Berbeda dengan Sensus Penduduk sebelumnya, untuk mencapai akurasi yang tinggi, pencacahan pada SP 2010 akan dilakukan secara tim. Setiap tim terdiri dari 1 orang Koordinator Tim dan 3 (tiga) orang pencacah, dimana setiap tim akan bertanggung jawab menyelesaikan 4-6 Blok Sensus (BS).

Berbeda dengan kegiatan BPS pada umumnya, Sensus Penduduk adalah kegiatan besar yang membutuhkan peran serta banyak pihak termasuk seluruh komponen masyarakat. Hal ini karena data hasil Sensus Penduduk merupakan data pijakan bagi program-program pemerintah yang berkelanjutan. Merupakan tantangan yang besar bagi BPS untuk dapat memberikan advokasi kepada masyarakat agar mendukung semua tahapan kegiatan SP2010 dan memastikan bahwa data SP2010 merupakan sumber data dasar kependudukan yang kredibel. Oleh Karena itu,Pastikan Anda Dihitung!

Dikutip dari:

http://www.bps.go.id/sp2010/index.shtml

Kode Aktivasi E-SPT PPh Masa

Untuk memperlancar pekerjaan bendahara kantor dalam melaporkan pajak ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP), beberapa waktu lalu saya mengambil program e-SPT PPh Masa dari website pajak, www.pajak.go.id. Namun ketika saya menjalankan program ini, ternyata program ini meminta kode aktivasi.

Sesuai petunjuk dalam manual program, kode aktivasi dapat diminta di KPP tempat terdaftarnya wajib pajak. Sayangnya ketika saya menghubungi KPP, mereka tidak mengetahui tentang aktivasi program ini. Setelah itu, saya mencari kode aktivasi di internet, saya mendapatkan kode aktivasi dari www.kanwilpajakkhusus.go.id yakni :

NPWP = 01.001.600.4-051.001.

Kode Aktivasi = BF14AC2A78B33BFA

aktivasi1

Setelah aktivasi berhasil, bukalah registry editor lalu buka HKEY_CURRENT_USER\Software\DJP\eSPT Versi 2. Ubah nilai NPWP Company , 010016004051001 dengan NPWP bendahara pemungut pajak, misalnya 006018303806000.

reg

Setelah itu, jangan lupa setting ODBC yang mana caranya bisa dilihat di manual program.

Salam

Madsyair.

Update

Saya coba merekam proses menginstall e-spt pph masa sampai proses aktivasi dan setting ODBC. Bisa didownload di sini

Download Ansav Terbaru (versi 2.0.11) dan Ansav versi Linux

Beberapa waktu lamanya, website www. ansav.com tidak bisa diakses sehingga beberapa penguna ansav tidak bisa mendownload ansav terbaru dan updatenya. Namun sekarang, Ansav.com telah bisa diakses, meskipun hanya halaman download.
Sesuatu yang beda yang saya lihat bahwa kini ansav tersedia dalam versi linux khususnya Linux Debian dan turunanannya. Selain itu, di halaman download tersebut terdapat ansav yang berupa file installer. Saya sendiri belum mencobanya karena hari ini baru mendownloadnya.

Selamat mencoba!!! jangan lupa review-nya, Laporkan jika ada virus yang belum tertangani maupun jika ada bug yang masih terjadi.

Selamat hari raya IDUL FITRI 1429 H

Buat para sahabat dan kerabat serta para pengunjung blog ini, kami sekeluarga (Syahrul dan istri tercinta Riza Fitriyah) mengucapkan:

Taqabbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum wakullu ‘aamin wa ‘antum bikhoir. Selamat H ari Raya Idul Fitri 1 syawal 1429 H. Mohon Maaf Lahir & Batin