Gelar

Pengalaman pertama kali saya melalukan pendataan adalah ketika saya menjadi petugas Sensus Penduduk 2000. Waktu itu saya bertugas di daerah Tebet, Jakarta Selatan, padahal tempat tinggal saya di daerah Bintaro (bukan yang perumahan).

Banyak pengalaman yang saya peroleh ketika menjadi petugas sensus. Salah satu di antaranya adalah saya dimarahi responden karena lupa menulis gelar. Ceritanya, waktu itu saya menanyakan nama responden dan dia bilang namanya adalah Haji Junaidi bin Abdulsomad. Tapi,waktu itu saya menuliskan di lembaran kuesioner, namanya adalah Junaidi bin Abd. Somad. Sengaja saya tidak menuliskan gelar haji, karena kotak isiannya tidak cukup.
Baca lebih lanjut

Iklan

AVATAR

Salah satu hobiku sejak kecil adalah menonton film kartun. Sampai sekarang aku masih sering menonton film kartun, walaupun banyak orang yang mengolok-olok aku seperti anak kecil. Film-film kartun yang biasa kutonton di televisi antara lain Doraemon, Tom and Jerry, Sinchan,Sponge Bob,Chalk Zone dan juga Avatar.
Salah satu alasan aku suka menonton film kartun adalah untuk hiburan. Tingkah laku tokoh dalam kartun tersebut kadang membuat aku bisa tersenyum bahkan bisa tertawa. Hal ini bisa mengurangi kejenuhan dan mengurangi stres akibat rutinitas pekerjaan yang tiada henti.
Selain untuk hiburan, beberapa cerita dalam film kartun juga mempunyai pesan-pesan positif. Jika kita bisa mengambil pesan positif dari film-film tersebut, maka kita bisa memakainya untuk kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya penting sekali menemani anak kecil ketika menonton film kartun agar kita bisa menjelaskan pesan-pesan yang terkandung dalam film tersebut.
Baca lebih lanjut

Terima Kasih

Ada seorang temanku yang unik. Poniman namanya. Temanku yang satu ini tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih setiap mengakhiri berinteraksi dengan seseorang. Misalnya berterima kasih kepada pedagang ketika belanja, mengucapkan terima kasih kepada sopir saat turun dari angkutan dan lain2.

Suatu hari, karena kebutuhan yang mendesak, aku pinjam uang padanya. Dan pada waktu yang aku janjikan, aku belum bisa mengembalikan. Akhirnya setelah 1 minggu, aku baru bisa mengembalikannya. Ketika aku menyerahkan uangnya, dia bilang,’terima kasih’. Lho, aku yang pinjam dan terlambat mengembalikan malah keduluan bilang terima kasih.

Di lain waktu, ada seseorang yang dengki kepadanya. Dia menjelekkan Poniman di mana-mana. Dan suatu ketika saat aku dan Poniman jalan-jalan, kami bertemu dengan orang tersebut. Apa yang dilakukan Poniman? Dia menjabat tangannya dan bilang, ‘terima kasih’.

Aku heran dengan temanku yang satu ini. Kalau orang lain,mungkin akan mendampratnya. Tapi dia tidak. Katanya, orang yang difitnah dan bisa bersabar, pahala menanti dan dosa diampuni.

Terkadang aku malu pada Poniman. Aku termasuk seringkali lupa mengucapkan terima kasih. Dan seingatku, aku belum pernah mengucapkan terima kasih kepada orang tuaku yang telah membesarkan, merawat,mendidik dan menyekolahkan aku sampai aku menjadi seperti sekarang ini.

Oh,ya. Terima kasih kepada rekan-rekan yang telah singgah di blog saya ini. Sekali lagi,terima kasih.

Mbok Yem

Mbok Yem,kalau tidak salah,itulah namanya. Kira2 dia seumuran nenekku. Dia hidupnya sebatangkara. Suaminya sudah meninggal sewaktu dia jadi Romusha. Mbok Yem tidak punya anak. Hidupnya sebatangkara. Famili-familinya tidak ada yang memperhatikannya karena dia miskin.
Mbok Yem memang miskin. Rumahnya dari bambu yang dindingnya di sana-sini berlubang. Untuk hidup sehari-hari dia menjadi peminta-minta.

Tidak seperti para pengemis di lampu merah,yang menadahkan tangan, sambil memepertontonkan cacat atau lukanya untuk menarik belas kasihan orang, Mbok Yem tidak tidak pernah menadahkan tangannya sambil berkata ‘Kasihani saya pak. Saya belum makan,anak saya banyak’. Ya, dia tidak pernah begitu. Dia datang dari rumah ke rumah sambil bersilaturahmi.

Seringkali waktu datang ke rumah kami, Mbok Yem membawa kue buat kami, cucu-cucu nenek. Kadang, dia bercerita dongeng-dongeng kepada kami.
Kalau mbok yem pulang, nenek biasa memberi uang sekedarnya,bukan sedekah kepada pengemis,tapi kepada saudara.

Sekarang aku tidak lagi tahu,bagaimana kabarnya. Semoga mbok yem senantiasa sehat selalu.

Pengamen Kaya

Pada waktu bulan puasa, beberapa tahun yang lalu, saya melakukan survei tentang anak jalanan. Saya dapat wilayah tugas di daerah Blok M. Selesai mewawancarai anak jalanan, iseng-iseng saya menghampiri seorang pengamen,kira-kira berumur 24 tahun.
‘Istirahat,Bang?’, sapaku.
‘Oh, iya, Mas. Istirahat dulu. Capek, dari tadi pagi ngamen. Sekarang dah hampir buka puasa.’,jawabnya.
‘Abang puasa?’, tanyaku lagi.
Sambil menyeka keringatnya,dia menjawab,’Lha iya Mas, dosa kalo ndak puasa. Saya masih kuat kok’
Kemudian,iseng-iseng saya bertanya lagi,’ngomong-ngomong, dapat berapa hari ini?’
‘alhamdulillah, dapat 30 ribu. Lumayan buat jajan anak saya dan simpanan buat kelahiran anak saya’, dia menjelaskan.
‘Jadi, sudah berkeluarga?’, aku penasaran.
‘iya, istri saya sedang hamil 2 bulan anak pertama kami. Istri saya bekerja di Matahari. ‘,jawabnya lagi.
‘anak pertama? Tadi saya kira mas bilang dah punya anak?’,aku semakin penasaran.
‘oh, yang itu anak angkat.. Saya punya 2 anak angkat.. Kebetulan, masih famili saya.’,dia menjelaskan.
Aku pun terkejut.. ‘Jadi,abang ini punya anak angkat?’
‘Iya mas. Kasihan, adik-adiknya banyak. Ayahnya baru meninggal. Ibunya tidak menentu pekerjaannya. Jadi, meskipun penghasilan saya juga pas-pasan, alhamdulillah cukup buat biaya mereka’.
Perbincangangan kami berhenti,karena terdengar adzan maghrib. Abang pengamen itu kemudian pergi menemui istrinya untuk berbuka.
Aku pun berpikir, ternyata pengamen itu lebih kaya dari orang-orang yang naik sedan.